Copy, cut and paste disabled


top of page

Cegah Anemia Pada Ibu Hamil Dengan Protein Hewani



Sobat Penting tau gak sih pemenuhan nutrisi bagi ibu hamil sangat penting karena berkaitan dengan kesehatan ibu dan janin. Berbagai permasalahan dihadapi ibu hamil berhubungan dengan kurang terpenuhinya kebutuhan nutrisi selama kehamilan. Salah satunya adalah anemia, yaitu suatu keadaan ketika kadar hemoglobin dalam darah kurang dari nilai batas yang ditetapkan [1, 2]. Hemoglobin merupakan protein yang berkaitan dengan zat besi yang ada di dalam sel darah merah, yang berfungsi untuk mengangkut oksigen dari paru-paru keseluruh tubuh [3, 4], termasuk otot dan otak untuk melakukan fungsinya [5]. Ketika konsentrasi hemoglobin menurun, kapasitas darah untuk membawa oksigen ke jaringan terganggu. Hal ini mengakibatkan penurunan kapasitas kerja fisik [1, 6] dengan gejala yang lebih sering disebut dengan 5L, yaitu lesu, lelah, letih, lemah dan lunglai [5].






Anemia yang terjadi pada masa kehamilan berisiko menimbulkan bahaya bagi ibu dan anak [7]. Pada ibu hamil, anemia bisa menyebabkan gangguan pernafasan, kehilangan kesadaran, kelelahan, peningkatan denyut jantung, kesulitan tidur, infeksi perinatal (periode segera, sebelum dan setelah kelahiran), pre eklamsi (tekanan darah tinggi tidak terkontrol yang terjadi pada ibu hamil), dan peningkatan risiko perdarahan [8, 9]. Sedangkan, dampak terhadap janin diantaranya adalah menyebabkan intra uterine growth retardation (pertumbuhan janin yang terhambat), bayi lahir prematur, berat bayi lahir rendah atau BBLR (berat lahir kurang dari 2500 gram) dan peningkatan risiko kematian janin dalam kandungan [10]. Penelitian Hastuty (2020) menyatakan bahwa ibu hamil yang mengalami anemia berisiko 3 kali lipat menyebabkan kejadian stunting pada balita-nya kelak dibandingkan dengan ibu hamil yang tidak mengalami anemia [11]. Hal ini dikaitkan dengen rendahnya kadar hemoglobin yang berperan dalam proses pembentukan jaringan dan pertumbuhan tulang, sehingga berdampak pada pertumbuhan linier anak yang tidak optimal [12].









Anemia merupakan masalah kesehatan masyarakat global yang menimpa hampir 529 juta wanita usia reproduksi, termasuk diantaranya 38% dari semua wanita hamil [13]. Ada banyak jenis anemia, tetapi kekurangan zat besi menjadi penyebab paling umum terjadinya anemia di seluruh dunia. Diperkirakan 50% anemia pada wanita di seluruh dunia disebabkan oleh kekurangan zat besi [15]. Anemia Gizi Besi (AGB) terjadi karena asupan atau penyerapan zat besi yang tidak memadai, peningkatan kebutuhan zat besi selama kehamilan atau masa pertumbuhan, ataupun peningkatan kehilangan zat besi akibat menstruasi dan kecacingan (cacing usus) [15, 16]. Risiko perempuan untuk mengalami anemia gizi besi terjadi sejak pertama kali mengalami menstruasi (menarch) dan semakin meningkat ketika perempuan dalam kondisi hamil. Di Indonesia, angka kejadian anemia gizi besi pada ibu hamil mengalami peningkatan signifikan dari 37,1% pada tahun 2013 menjadi 48,9% pada tahun 2018 [14]. Pada kondisi hamil, tubuh membutuhkan zat besi lebih banyak. Penambahan usia kehamilan akan semakin meningkatkan kebutuhan zat besi. Hal ini terjadi untuk mengimbangi perubahan fisiologis ibu dan kebutuhan janin [17]. Pada saat hamil, tubuh akan mengalami perubahan yang signifikan, jumlah darah dalam tubuh meningkat sekitar 20 - 30 %, sehingga memerlukan peningkatan kebutuhan pasokan zat besi dan vitamin untuk membuat hemoglobin (Hb) [17, 18]. Zat besi (Fe) pada masa kehamilan akan digunakan sebagai salah satu zat pembentuk plasenta dan sel darah merah [19]. Kurangnya konsumsi pangan bersumber zat besi dan protein hewani, menyebabkan rendahnya pembentukan heme dan globin yang berakibat pada penurunan kadar hemoglobin darah sehingga ibu hamil berada dalam kondisi anemia [18, 20].



Bahan makanan apa saja yang baik untuk Ibu Hamil agar terhindar dari anemia ?

Penelitian yang dilakukan Gozali (2018) menyatakan bahwa 93% anemia dipengaruhin oleh pola makan. Sedangkan 7% disebabkan oleh faktor lain [21]. Pola makan yang tepat selama kehamilan perlu diperhatikan sebagai penunjang kesehatan ibu dan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin [22, 23]. Pola makan ibu selama masa kehamilan membutuhkan tambahan multivitamin dan mineral, bahkan kebutuhannya zat besi bertambah hampir dua kali lipat [24]. Zat besi banyak terkandung pada sumber pangan hewani seperti ikan, telur, daging ayam dan sapi dan pangan nabati seperti kacang-kacangan serta sayuran berwarna hijau [25]. Ikan, daging, hati dan tempe adalah jenis pangan yang baik untuk ibu hamil karena kandungan zat besinya tinggi [26]. Dalam 100 gram ikan laut terkandung hingga 3mg zat besi, hati sapi mengandung 6,5 mg, daging merah mengandung 2,7 mg, dan bayam mengandung 2,7 mg zaț besi[27].


Kebutuhan zat besi selama hamil rata-rata 800 mg - 1040 mg [28] atau 27 mg perhari [29]. Kandungan zat besi yang tinggi semakin meningkatkan kemungkinan penyerapan yang optimal pula. Penyerapan zat besi dipengaruhi oleh komponen zat gizi enhancer (pendorong) dan inhibitor (penghambat) [25]. Vitamin C, vitamin A dan vitamin B2 serta protein hewani yang berasal dari daging, ikan dan unggas merupakan faktor enhancer. Sedangkan, tannin dan fitat merupakan zat yang paling berperan sebagai inhibitor sehingga penyerapan zat besi menjadi terganggu atau terhambat [30]. Buah-buahan seperti jeruk, jambu dan pepaya serta sayuran hijau seperti bayam merupakan sumber vitamin C yang berperan dalam peningkatan penyerapan zat besi dalam usus halus (meningkatkan empat kali lipat penyerapan zat besi) [31, 32]. Protein hewani Seperti ayam, daging, dan ikan disebut sebagai “meat factor” yang memiliki efek meningkatkan penyerapan zat besi 2-3 kali lipat dibandingkan dengan protein pada telur [33]. Kombinasi menu yang terdiri dari sayuran hijau, protein hewani dan buah dapat memperbaiki kualitas menu sehingga dapat meningkatkan tingkat penyerapan zat besi dari makanan yang diserap [32] Namun perlu diperhatikan pula dengan faktor penghambat dari penyerapan zat besi yaitu tannin dan fitat. Zat fitat salah satunya terkandung didalam kedelai dan bahan olahan turunannya seperti tempe dan tahu serta zat tannin terkandung dalam teh dan kopi [34] sehingga disarankan untuk ibu hamil agar menghindari minum teh atau kopi sebelum dan sesudah makan karena dapat menghambat penyerapan zat besi dalam darah [35].


Gizi Seimbang bagi Ibu Hamil

Pencegahan anemia pada ibu hamil tidak hanya dikaitkan dengan pemberian makanan tinggi protein dan zat besi, namun ibu juga harus memperhatikan asupan makanan baik secara kualitas maupun kuantitas. Cara sederhana pemenuhan kebutuhan gizi ibu hamil adalah dengan menerapkan prinsip gizi seimbang yang diwujudkan dalam Isi Piringku pada setiap kali makan (makan pagi, makan siang, dan makan sore/makan malam). Selain itu, perlu disertai dengan dua kali snack/kudapan setiap hari yaitu snack/kudapan pagi dan snack/kudapan sore [36]. Gizi seimbang merupakan susunan pangan sehari-hari yang mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh dengan prinsip keanekaragaman pangan, aktivitas fisik, perilaku hidup bersih dan memantau berat badan secara teratur untuk mempertahankan berat badan normal dan mencegah terjadinya masalah gizi [26]. Gizi seimbang untuk ibu hamil harus memenuhi kebutuhan gizi untuk dirinya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan janin [23]. Gizi seimbang dapat diimplementasikan melalui konsep Isi Piringku, yaitu satu piring makan yang terdiri dari 50 persen buah dan sayur, dan 50 persen sisanya terdiri dari karbohidrat dan protein [37]. Porsi makanan pokok sedikit lebih banyak dibanding porsi lauk pauk dan porsi sayur sedikit lebih banyak dibanding porsi buah. Porsi gula, garam dan lemak sehari tidak lebih dari empat sendok makan gula (50 gram), satu sendok teh garam (5 gram), dan lima sendok makan lemak (70 gram) [36].


Beragam jenis pangan dalam Isi Piringku dapat dikelompokkan menjadi enam kelompok pangan (makanan dan minuman) [36] :

  1. Makanan pokok, sebagai pangan sumber karbohidrat seperti nasi, singkong, ubi, kentang, sagu, jagung dan pangan pokok lainnya.

  2. Lauk pauk sebagai pangan sumber protein yang juga kaya vitamin dan mineral seperti ikan, telur, daging, susu, tahu dan tempe.

  3. Buah-buahan sebagai pangan sumber vitamin C, vitamin dan mineral lainnya, seperti pepaya, jeruk, pisang, semangka, dan buah lainnya.

  4. Sayur-sayuran sebagai pangan sumber serat, vitamin dan mineral seperti bayam, daun singkong, daun kelor, daun katuk, kangkung, kol, wortel, dan lainnya.

  5. Gula garam dan lemak yang biasanya digunakan dalam pengolahan makanan dan perlu dibatasi agar tidak berlebihan.

  6. Air minum sebagai sumber air bagi tubuh.

Ibu hamil dianjurkan untuk mengonsumsi pengan yang beragam, termasuk protein hewani dan nabati. Oleh karena terbatasnya kandungan zat gizi, seperti asam amino esensial dalam pangan nabati, sementara zat gizi tersebut sangat penting, maka ibu hamil dianjurkan untuk mengonsumsi cukup protein hewani yang kaya akan kandungan zat besi, asam amino esensial lengkap, serta mudah dicerna tubuh [38].


Kebutuhan Kalori, Karbohidrat, Protein, dan Lemak pada Ibu Hamil

Status gizi sangat berpengaruh terhadap anemia karena asupan gizi yang dikonsumsi oleh ibu hamil tidak adekuat. Ibu hamil lebih banyak membutuhkan zat gizi makro (karbohidrat, protein, lemak) dan zat gizi mikro (yodium, zat besi, vitamin) [39]. Pada masa kehamilan kebutuhan gizi ibu hamil lebih tinggi dibandingkan kebutuhan gizi ibu sebelum hamil, dan akan semakin bertambah seiring bertambahnya usia kehamilan. Asupan gizi yang optimal yang disesuaikan dengan usia kehamilan diperlukan untuk mencapai kehamilan yang sehat [23].


Tabel Kebutuhan Gizi Ibu Hamil

​Kelompok umur

Energi (Kkal)

P (g)

L (g)

KH (g)

Serat (g)

Vit C (mg)

Folat (mcg)

Besi (mg)

Air (ml)

19-29 tahun

Trimester 1

2430

61

67.3

385

35

85

600

18

2650

Trimester 2

2550

70

67.3

400

36

85

600

27

2650

Trimester 3

2550

90

67.3

400

36

85

600

27

2650

30-49 tahun

Trimester 1

2330

61

67.3

365

33

85

600

18

2650

Trimester 2

2450

70

67.3

380

34

85

600

27

2650

Trimester 3

2450

90

67.3

380

34

85

600

27

2650


Dalam tabel diatas, ibu hamil dengan rentang usia 19-29 tahun membutuhkan 2430 Kkal, 385 gram karbohidrat, 61 protein dan 67,3 gram lemak pada trimester pertama, dan semakin meningkat pada trimester berikutnya. Berikut kandungan gizi dalam bahan makanan [40].







Berdasarkan Pedoman Gizi Seimbang pada Ibu Hamil dan Ibu Menyusui Kementrian Kesehatan (2021) dalam Buku Resep Makanan Lokal Balita dan Ibu Hamil memberikan contoh anjuran makanan dan pembagian menu ibu hamil dalam sehari, sebagai berikut:



Contoh pembagian makanan ibu hamil dalam sehari,

  1. Makan pagi:

  • 1-2 porsi karbohidrat (nasi putih)

  • 1/2 porsi protein hewani (1/2 butih telur rebus)

  • 1 porsi protein nabati (tempe goreng)

  • 1 porsi sayur dan 1/2 porsi protein hewani (tumis daun pepaya, kacang panjang, dan ikan teri)

  • 1 potong besar buah pepaya

2. Kudapan pagi

  • 1 porsi karbohidrat (ubi merah)

  • 1-2 porsi protein nabati (kacang hijau)

  • 1-2 porsi lemak (santan)

3. Makan siang

  • 1 porsi karbohidrat (nasi putih)

  • 1 porsi protein hewani (1 potong bebek goreng)

  • 1 porsi protein nabati (semur tahu)

  • 1-2 porsi sayur (bobor daun singkong)

  • 1 buah jeruk

4. Kudapan sore

  • 1-2 porsi buah (pisang dan kolang-kaling)

  • 1 porsi susu

5. Makan malam

  • 1-2 porsi karbohidrat (nasi putih)

  • 1 porsi protein hewani (1 ptg ikan kembung goreng)

  • 1 porsi protein nabati + 1 porsi sayur (lodeh kacang panjang dan tempe)

  • 1 potong besar buah naga


Wah, ternyata cukup banyak hal yang harus diperhatikan dalam memenuhi kebutuhan nutrisi ibu selama proses kehamilan. Mari bersama-sama kita optimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak sejak dalam kandungan dengan menjaga kesehatan ibu selama masa kehamilan melalui pemenuhan nutrisi yang seimbang kaya akan zat besi dan protein terutama jenis protein hewani demi masa depan anak yang lebih sehat dan lebih baik.



Penulis : Muhamad Abi Zakaria., S.Kep., Ns

Reviewer: Dr. dr. Brian Sri Prahastuti, MPH

Designer: dr. Dhiya Khoirunnisa, B.Med



Referensi:

  1. World Health Organization. (2017). Nutritional anaemias: tools for effective prevention and control. Geneva: World Health Organization.

  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Pedoman Pencegahan dan Penanggulangan Anemia Pada Remaja Putri dan Wanita Usia Subur (WUS). Retrieved April 16, 2023 Available at https://promkes.kemkes.go.id/buku-pedoman-pencegahan-dan-penanggulangan-anemia-pada-remaja-putri-dan-wanita-usia-subur

  3. Tutik, & Ningsih, S. (2019). Pemeriksaan Kesehatan Hemoglobin di Posyandu Lanjut Usia (Lansia) Pekon Tulung Agung Puskesmas Gadingrejo Pringsewu. Jurnal Pengabdian Farmasi Malahayati, 2(1), 22-26.

  4. School of Public Health. (2023). The Nutrition Source : iron. Retrieved April 16, 2023 Available at https://www.hsph.harvard.edu/nutritionsource/iron/

  5. Margarini, E. (2021). Remaja Putri Sehat Bebas Anemia di Masa Pandemi Covid-19. Retrieved April 16, 2023 Available at https://promkes.kemkes.go.id/remaja-putri-sehat-bebas-anemia-di-masa-pandemi-covid-19

  6. Chaparro, C. M., & Suchdev, P. S. (2019). Anemia epidemiology, pathophysiology, and etiology in low- and middle-income countries. Annals of the New York Academy of Sciences, 1450(1), 15–31. https://doi.org/10.1111/nyas.14092

  7. Fitria Sari, W. W. (2022). Analisis Kejadian Anemia pada Ibu Hamil di Puskesmas Tempuran Karawang Tahun 2021. Jurnal Ilmiah Penelitian Kebidanan Dan Kesehatan Reproduksi, 5(2), 41-59

  8. Hidayanti, L., & Rahfiludin, M. Z. (2020). Dampak Anemi Defisiensi Besi pada Kehamilan : a Literature Review. GASTER, 18(1), 50-64.

  9. Abu-Ouf, N. M., & Jan, M. M. (2015). The impact of maternal iron deficiency and iron deficiency anemia on child's health. Saudi medical journal, 36(2), 146–149. https://doi.org/10.15537/smj.2015.2.10289

  10. Salulinggi, A., Asmin, E., Titaley, C. R., & Bension, J. B. (2021). Hubungan Pengetahuan Dan Kepatuhan Ibu Hamil Konsumsi Tablet Tambah Darah Dengan Kejadian Anemia Di Kecamatan Leitimur Selatan Dan Teluk Ambon. Jurnal Epidemiologi Kesehatan Komunitas, 6(1), 229-236.

  11. Hastuty, M. (2020). Hubungan Anemia Ibu Hamil dengan Kejadian Stunting apda Balita di UPTD Puskesmas Kampar Tahun 2018. Jurnal Doppler, 4(2), 113-116.

  12. Salakory, G. T. J., & Wija, I. B. E. U. (2021). Hubungan Anemia Pada Ibu Hamil Terhadap Kejadian Stunting di RS Marthen Indey Jayapura Tahun 2018-2019. Majalah Kedokteran UKI, 37(1), 9 - 12. https://doi.org/10.33541/mk.v37i1.3365

  13. Young, M. F., Oaks, B. M., Tandon, S., Martorell, R., Dewey, K. G., & Wendt, A. S. (2019). Maternal hemoglobin concentrations across pregnancy and maternal and child health: a systematic review and meta-analysis. Annals of the New York Academy of Sciences, 1450(1), 47–68. https://doi.org/10.1111/nyas.14093

  14. Kemenkes RI. (2018). Hasil Riset Kesehatan Dasar Tahun 2018. Kementrian Kesehatan RI, 53(9), 1689–1699.

  15. World Health Organization. (2014). Global Nutrition Targets 2025 Anaemia policy brief. Geneva: World Health Organization. Retrieved April 17, 2023 Available at https://www.who.int/publications/i/item/WHO-NMH-NHD-14.4

  16. World Health Organization. (2020). Global anaemia reduction efforts among women of reproductive age: impact, achievement of targets and the way forward for optimizing efforts. Geneva: World Health Organization. Retrieved April 17, 2023. Available at https://www.who.int/publications/i/item/9789240012202

  17. Aksari, S. T., & Imanah, N. D. N. (2022). Usia Kehamilan Sebagai Faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil Selama Pandemi Covid 19. Jurnal Kebidanan Indonesia, 13(1), 94 - 102.

  18. Lapian, A. (2018). Hubungan Antara Asupan energy dan Ketaatan Konsumsi Tablet Fe dengan Kejadian Anemia pada Ibu Hamil di Puskesmas Bahu Kota Manado. Jurnal Kesmas, 7 (5).

  19. Astriana, W. (2017). Kejadian Anemia pada Ibu Hamil Ditinjau dari Paritas dan Usia. Jurnal Aisyah : Jurnal Ilmu Kesehatan, 2(2), 123 - 130. doi:https://doi.org/10.30604/jika.v2i2.57

  20. Farida, L. N., & Solihah, V. M. (2019). Penanganan Anemia Pada Ibu Hamil dengan Pemberian Edukasi dan Suplementasi Tablet Besi. JIKO (Jurnal Ilmiah Keperawatan Orthopedi), 3(2), 64-69.

  21. Gozali, W. (2018). Hubungan Pola Makan dengan Kejadian Anemia pada Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Buleleng III. International Journal of Natural Sciences and Engineering, 2(3), 117-122.

  22. Narasiang, B. R., Mayulu, N., & Kawengian, S. (2016). Gambaran pola konsumsi makanan pada ibu hamil di kota Manado. Jurnal e-Biomedik (eBm), 4(2).

  23. Fitriah, A. H., Supariasa, I. D. N., Riyadi, B. D., Bakri, B. (2018). Buku Praktis Gizi Ibu Hamil. Malang. Media Nusa Creative.

  24. Mariana, D., Wulandari, D., & Padila, P. (2018). Hubungan Pola Makan dengan Kejadian Anemia pada Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas. Jurnal Keperawatan Silampari, 1(2), 108-122. https://doi.org/https://doi.org/10.31539/jks.v1i2.83

  25. FayasariL, A., Istianah, I., & Fauziana, S. (2022). Perbedaan Asupan Zat Besi Ibu Hamil Anemia dan non-Anemia di Jakarta Timur. Indonesian of Journal Human Nutrition, 9(1), 78-89. DOI:https://doi.org/10.21776./ub.ijhn.2022.009.01.8

  26. Menteri Kesehatan RI. 2014. Permenkes RI No. 41 Tahun 2014 tentang Pedoman Gizi Seimbang. Retrieved April 19, 2023. Available at https://peraturan.bpk.go.id/Home/Details/119080/permenkes-no-41-tahun-2014

  27. Merianty, T. 2020. 5 Makanan Kaya Zat Besi. Retrieved April 23, 2023. Available at https://beranisehat.com/5-makanan-kaya-zat-besi/

  28. Aryani, R., & Kurniawati, E. (2022). Pentingnya Tablet Tambah Darah (FE) pada Ibu Hamil dan ASI eksklusif pada Bayi Baru Lahir di Desa Tumbo Baro Kecamatan Kuta Malaka Kabupaten Acedh Besar. Jurnal Pengabdian Masyarakat (Kesehatan), 4(2), 121-126.

  29. Savietri, E. 2022. Gizi Seimbang Ibu Hamil. Retrieved April 23, 2023. Available at https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/405/gizi-seimbang-ibu-hamil

  30. Nabilla, F. S., Muniroh, L., & Rifqi, M. A. (2022). Hubungan Pola Konsumsi Sumber Zat Besi, Inhibitor dan Enhancer Zat Besi dengan Kejadian Anemia pada Santriwati Pondok Pesantren Al-Mizan Muhammadiyah Lamongan. Media Gizi Indonesia (National Nutrition Journal). 17(1), 56–61 https://doi.org/10.204736/mgi.v17i1.56–61

  31. Ayupir, A. (2021). Pendidikan Kesehatan dan Terapi Tablet Zat Besi (Fe) terhadap Hemoglobin Remaja Putri. Higeia Journal of Public Health Research and Development. 5(3). DOI: https://doi.org/10.15294 /higeia/v5i3/44135

  32. Ningsih, D. D. R., Panunggal, B., Pramono, A, & Fitranti, D. Y. (2018). Hubungan Asupan Protein dan Kebiasaan Makan Pagi terhadap Kadar Hemoglobin pada Anak Usia 9-12 Tahun di Tambaklorok Semarang Utara. Journal of Nutrition College, 7(2).

  33. Ayuningtyas, I. N., Tsanil, A. F. A., Candra, A., & Dieny, F. F. (2022). Analisis Asupan Zat Besi Heme dan Non Heme, Vitamin B12 dan Folat serta Asupan Enhancer dan Inhibitor Zat Besi Berdasarkan Status Anemia pada Santriwati. Journal of nutrition College,11 (2), 171-181.

  34. Pratiwi, R., & Widari, D. (2018). Hubungan Konsumsi Sumber Pangan Enhancer Dan Inhibitor Zat Besi Dengan Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil. Amerta Nutrition, 2(3), 283–291. https://doi.org/10.20473/amnt.v2i3.2018.283-291

  35. Sri Iriani, O., & Ulfah, U. (2019). Hubungan Kebiasaan Meminum Teh dan Kopi dengan Kejadian Anemia pada Ibu Hamil di BPM Bidan “E” Desa Ciwangi Kecamatan Balubur Limbangan Kabupaten Garut. Jurnal Sehat Masada, 13(2), 68-71. https://doi.org/https://doi.org/10.38037/jsm.v13i2.108

  36. Hardinsyah, dkk. (2021). MENU BERGIZI MENGGUNAKAN PANGAN LOKAL BAGI IBU HAMIL. PERGIZI PANGAN Indonesia

  37. Veronika, S. Y., Qurniasih, N., Utami, I. S.,& Febrianti, H. (2019). Peningkatan Gizi Anak Sekolah dengan Gerakan Isi Piringku. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Ungu, 1(1), 47-50.

  38. Kementrian Kesehatan. (2022). Buku Resep Makanan Lokal Balita dan Ibu Hamil. Retrieved April 29, 2023. available at https://kesmas.kemkes.go.id/konten/105/0/buku-resep-makanan-lokal-balita-dan-ibu-hamil

  39. Fatkhiyah, N., Salamah, U., Indrastuti, A., & Nurfiati, L. (2022). Studi Korelasi Status Gizi dengan Kejadian Anemia pada Ibu Hamil. Jurnal Kesehatan Komunitas. 8(3), 569-575.

  40. Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Riau. (2018). Tabel Acuhan URT. Retrieved May 2, 2023. available at https://diskepang.riau.go.id/e-CalEnergi/tabel

Comments


bottom of page