Search
  • Cegah Stunting

Double Burden of Malnutrition




Double burden of Malnutrition (Beban Ganda Masalah Gizi) adalah suatu keadaan di mana masalah gizi kurang terjadi dalam satu waktu (co-existence) secara bersamaan dengan gizi lebih dan obesitas, atau penyakit tidak menular yang terkait nutrisi dalam lingkup individual, rumah tangga, populasi. dan sepanjang fase kehidupan (WHO). Pada tahun 2015, diperkirakan ada 42 juta anak dibawah 5 tahun yang mengalami overweight atau obesitas sedangkan 156 juta anak mengalami stunting dan 50 juta anak mengalami gizi kurang. Manajemen double burden of malnutrition meliputi berbagai aspek yang terkait dengan tatalaksana baik untuk kekurangan gizi, perawakan pendek, maupun pada kondisi overweight dan obesitas. Istilah ‘double burden of malnutrition’ mulai menggemukan sejak terjadi pergeseran epidemiologi nutrisi yang banyak dipengaruhi oleh munculnya era globalisasi, pertumbuhan ekonomi, dan pendapatan yang pesat, urbanisasi dan perubahan demografis dalam beberapa dekade terakhir. Faktor-faktor tersebut mengubah pola asupan, pola aktivitas dan status gizi.



Double burden of malnutrition dapat terjadi pada tingkat individual (contoh anak obesitas dengan defisiensi vitamin/mineral, atau dewasa yang overweight dengan riwayat stunted pada masa balita). Pada tingkat keluarga, contohnya seorang ibu yang overweight dengan anak yang kekurangan gizi. Pada tingkat populasi, jika terdapat populasi overweight dan gizi kurang pada komunitas, regional, atau negara yang sama. Beberapa bukti penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara kekurangan gizi dengan overweight dan obesitas tidak hanya suatu situasi ko-eksistensi. Kekurangan gizi pada awal kehidupan, bahkan sejak dalam kandungan merupakan predisposisi untuk terjadinya overweight dan penyakit-penyakit kronik seperti diabetes dan kelainan jantung di kemudian hari.


Obesitas dan diabetes melitus (DM) saling berhubungan timbal balik. Kejadian DM tergantung sensitivitas insulin, sebuah hormon yang dihasilkan pankreas untuk mengatur metabolisme karbohidrat dengan cara membantu penyerapan glukosa oleh sel-sel tubuh, sehingga dapat mengendalikan gula darah. Sensitivitas insulin dipengaruhi berbagai faktor, anta lain: suku, pubertas, jenis kelamin, berat badan lahir, tekanan darah, kadar high density lipoprotein (HDL), riwayat obesitas pada keluarga, riwayat DM tipe 2 pada keluarga, dislipidmia, dan gaya hidup. Di sisi lain, obesitas secara primer, akibat adanya peningkatan deposit lemak, dapat menimbulkan terjadinya intoleransi glukosa karena adanya resistensi insulin. Penimbunan lemak di organ dalam (viscera) menimbulkan resistensi insulin yang lebih tinggi daripada penimbunan lemak di bawah kulit. Berat lahir rendah juga merupakan faktor risiko penting karena meningkatkan risiko terjadinya resistensi insulin dan obesitas, terutama jika disertai dengan peningkatan berat badan yang cukup pesat selama awal kehidupan.




Obesitas pada anak merupakan permasalahan yang mendunia dan angka kejadiannya mengalami peningkatan sepanjang waktu dan semakin memprihatinkan. Keadaan ini dipengaruhi oleh suku, ras, jenis kelamin, pola makan, aktivitas fisik, dan status sosial ekonomi. Obesitas ditandai dengan penimbunan jaringan lemak tubuh secara berlebihan akibat masukan kalori yang lebih banyak dibandingkan penggunaannya. Obesitas pada anak berhubungan dengan morbiditas dan mortalitas saat dewasa, serta dalam jangka waktu panjang dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular, terutama DM tipe 2 dan penyakit jantung koroner (PJK). Berbagai faktor yang dapat menjadi penyebab obesitas pada anak :



  • Faktor herediter. Anak dengan obesitas seringkali berasal dari keluarga obesitas. Bila kedua orangtua dengan obesitas, maka sekitar 80% akan menurun pada anak-anak mereka. Bila salah satu orangtuanya saja, maka kemungkinannnya menjadi 40 %. Bila kedua orangtua tidak obes maka prevalensi obesitas akan turun menjadi 14%. Peningkatan risiko menjadi obesitas tersebut kemungkinan disebabkan oleh pengaruh gen atau faktor lingkungan dalam keluarga.

  • Pola makan. Peran nutrisi pada pertumbuhan anak dimulai sejak masa gestasi, sementara perilaku makan mulai terkondisi dan terlatih sejak bulan-bulan pertama kehidupan yaitu saat diasuh orangtua. Pemberian susu formula mempunyai keecenderungan untuk diberikan dengan jumlah yang berlebihan sehingga risiko menjadi obesitas menjadi lebih besar. Akibatnya anak akan terbiasa untuk mengkonsumsi makanan melebihi kebutuhan dan berlanjut ke masa prasekolah sampai masa remaja, termasuk kebiasaan anak-anak usia sekolah mengkonsumsi makanan cepat saji yang pada umumnya mengandung kalori tinggi, makanan camilan yang banyak mengandung gula. Kebiasaan sering melewatkan makan pagi, dapat meningkatkan risiko overweight dan obesitas. Penelitian yang dilakukan Dubois dkk (2006) ditemukan bahwa melewatkan makan pagi meningkatkan risiko overweight hampir dua kali lipat dengan odds ratio =1,9 ( 1.2-3.2)

  • Aktifitas fisik. Suatu data menunjukkan bahwa aktifitas fisik anak-anak cenderung menurun, apalagi saat masa pandemik seperti sekarang ini. Seharusnya naka-anak harus dibiasakan untuk lebih banyak bermain di luar rumah. Kebiasaan menonton TV yang terlalu lama dan sering dapat menurunkan aktivitas. Suatu penelitian kohort mengatakan bahwa menonton televiusi lebih dari lima jam meningkatkan prevalensi dan angka kejadian obesitas pada anak 6-12 tahun (18%) serta menurunkan angka keberhasilan sembuh dari obesitas sebanyak 33%.

  • Gangguan Hormonal. Walaupun sangat jarang, dapat menjadi penyebab obesitas. Misalnya, sindroma cushing, hiperaktivitas adrenokortikal, hipogonadisme, dan penyakit hormon lain.

Obesitas dapat memberikan efek yang tidak baik pada hampir semua organ tubuh. Dampaknya meliputi risiko penyakit kardiovaskuler, henti nafas ketika tidur (sleep apneu), gangguan fungsi hati karena perlemakan, masalah ortopedik akibat beban berlebihan pada tulang belakang dan anggota tubuh, kelainan kulit serta gangguan psikiatrik. Suatu studi menunjukkan bahwa obesitas pada kelompok umur anak 14-19 tahun akan meningkatkan angka kematian usia muda (sekitar 30 tahun), terutama akibat aterosklerosis dan penyakit kardiovaskuler. Oleh karenanya kejadian obesitas pada anak harus ditangani secara serius sedini mungkin, terpadu, terkonsep dan konsisten. Penanganannya harus meliputi pola makan, aktivitas dan kebiasaan, dengan memperhatikan berbagai faktor pemicunya seperti genetik, lingkungan serta psikososial. Perilaku dan kebiasaan makan yang baik merupakan cara pengobatan terbaik dan dianjurkan untuk menangani dan menghindari obesitas. Mempertimbangkan bahwa obesitas pada anak, polanya terbentuk sejak 1.000 HPK, maka menjadi sangat relevan bahwa POLA ASUH, POLA PANGAN dan SANITASI adalah upaya pencegahan stunting, obesitas dan menurunkan risiko penyakit tidak menular kelak di usia dewasa.


References

  1. Departemen Kesehatan. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar Tahun 2007. Jakarta, 2008

  2. WHO. Obesity and Overweight. Glob Strateg Diet, Phys Act Hel. 2003; 1-2

  3. Dodd CJ. Energy regulation in young people. J Sports Sci Med 2007. P. 327-36

Created by:

dr. Agustina, Sp.A., M.Kes - Dokter Spesialis Anak

Reviewed by:

Dr. dr. Brian Sri Prahastuti - Health Policy & Stunting Reduction Expert

Designed by:

dr. Dhiya Khoirunnisa



92 views0 comments

Recent Posts

See All