Search
  • Cegah Stunting

Ibu Positif Covid-19, Apakah Masih Boleh Menyusui?

Updated: Sep 21



Manfaat menyusui ASI sangatlah besar untuk kesehatan ibu dan juga bayi, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Bahkan merupakan himbauan yang tertuang dalam ajaran keenam agama yang diakui di Indonesia. Menyusui merupakan salah satu investasi terbaik untuk masa depan ibu dan bayi, memiliki kontribusi dalam pentingnya 1000 hari pertama kehidupan bayi.


Menyusui merupakan landasan dari keberlangsungan hidup, nutrisi dan tumbuh kembang seorang anak, serta kesehatan ibunya. WHO merekomendasikan menyusui eksklusif selama 6 bulan, dilanjutkan menyusui bersamaanpemberian MPASI yang adekuat sampai usia bayi 2 tahun atau lebih.


Selain itu, WHO juga menganjurkan kontak kulit ke kulit (skin-to-skin contact) segera setelah lahir dan tanpa penyelaan, rawat gabung dan perawatan bayi lekat (kangaroo mother care) sebagai upaya meningkatkan angka keberlangsungan hidup dan menurunkan morbiditas.


Lalu bagaimana dengan ibu menyusui atau bayi, yang terduga maupun terkonfirmasi Covid-19?


WHO dan UNICEF tetap merekomendasikan pelaksaan IMD (Inisiasi Menyusu Dini), rawat gabung dan menyusui tetap dilakukan, dengan melaksanakan protokol kesehatan, bahkan pada ibu dengan suspek maupun terkonfirmasi Covid-19. Menimbang besarnya manfaat pemberian ASI jauh lebih banyak dibanding dengan risiko penularan covid-19.


Ibu dan keluarga sebaiknya mendapat konseling mengenai manfaat menyusui terutama pada kondisi pandemi dan upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah transmisi. Sehingga, ibu dan keluarga dapat menentukan pilihan yang bijak untuk dapat menjalankan IMD dan rawat gabung sebagai langkah awal menuju kesuksesan menyusui.


Selama rawat gabung, Ibu dan bayi sebaiknya selalu bersama sepanjang siang dan malam, mempraktikkan kontak skin to skin, termasuk perawatan bayi metode kanguru, khususnya segera setelah persalinan dan selama proses menyusui. Hal ini juga berlaku pada ibu dan bayi yang terduga atau terkonfirmasi positif Covid-19.


Sampai saat ini, tidak ada bukti ilmiah yang mendukung adanya transmisi vertikal virus Covid-19 melalui praktik menyusui. Pada bayi yang disusui, risiko infeksi Covid-19 justru terbilang rendah, dan infeksi pun biasanya ringan atau tak bergejala. Sementara, konsekuensi morbiditas dan mortalitas (seperti risiko infeksi saluran cerna, alergi, sampai kematian bayi) pada bayi yang tidak menyusu ASI dan dipisah dari ibunya, lebih besar.


Pada titik ini tampaknya ancaman COVID-19 terhadap keselamatan dan kesehatan pada bayi dan anak-anak jauh lebih rendah dibanding risiko infeksi lain yang seharusnya bisa dicegah melalui praktik menyusui.


Setiap ibu yang terduga maupun terkonfirmasi Covid-19 wajib menjalankan protokol kesehatan, supaya bayinya tidak tertular. Beberapa tindakan pencegahan yang bisa ibu lakukan adalah :

- Menggunakan masker setiap bersentuhan dengan bayinya maupun saat memerah

- Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, atau dengan hand sanitizer/rub berbasis alcohol minimal 60%, sebelum dan sesudah memegang bayinya atau memerah ASI.

- Membersihkan dan memberikan desinfektan pada seluruh permukaan yang kontak dengan ibu dan bayi, termasuk menjaga kesterilan alat pompa.


Pekan Menyusui Sedunia tahun 2021 ini, bertema "Protect Breastfeeding : Shared Responsibility", perlindungan menyusui merupakan tanggung jawab bersama, mulai dari lingkungan terdekat ibu dan bayi, yaitu keluarga, lingkungan sosial, fasilitas kesehatan dan pemerintah. Ibu atau bayi dengan terduga maupun terkonfirmasi positif Covid-19 sangatlah membutuhkan dukungan berbagai pihak. Keluarga dapat memberikan bantuan pengasuhan agar ibu dapat fokus menyusui sekaligus beristirahat demi kesembuhannya. Jika ibu tidak bisa menyusui langsung, seperti ibu sakit berat, atau harus menjalani perawatan intensif, keluarga dapat membantu memberikan ASI perah kepada bayinya dengan cara yang benar. Tentunya dukungan fasilitas kesehatan juga sangatlah penting. Mulai dari memberi layanan persalinan dengan aman, memberi kesempatan ibu untuk bisa melakukan IMD dan rawat gabung.


Namun tidak dipungkiri bahwa beberapa fasilitas kesehatan memiliki kebijakan yang berbeda, semua bergantung pada kesiapan dan ketersediaan sarana dan prasarana serta sumber daya yang tersedia di tiap fasilitas kesehatan. Beberapa rumah sakit tidak memiliki bangsal yang bisa menjalankan rawat gabung bagi pasien/ibu dengan covid-19. Praktik IMD dan pemberian ASI perah pun disesuaikan dengan kondisi masing-masing tempat. Di tengah membludaknya pasien Covid-19, membuat tenaga kesehatan kita bekerja keras dengan memprioritaskan keselamatan dan keamanan pasien. Apabila ibu tidak dapat melakukan IMD, rawat gabung, menyusui langsung bayinya maupun memberikan ASI perah selama perawatan di fasilitas kesehatan, ibu bisa dapat berkonsultasi dengan konselor menyusui untuk diupayakan dilakukan segala hal yang bisa menunjang dan mempertahankan keberlangsungan menyusui, juga sampai pilihan untuk melakukan relaktasi.


Oleh karena itu bagi ibu yang masih dalam kondisi hamil, sangatlah penting untuk menyiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan persalinannya nanti. Dan yang tak kalah penting adalah ibu menjalakan protokol kesehatan dengan disiplin sehingga tidak tertular Covid-19, termasuk vaksinasi bagi ibu hamil dan ibu menyusui, sesuai surat edaran Kemenkes RI.


Menyusui di masa pandemi memiliki tantangan tersendiri. Layaknya kondisi normal, di situasi pandemi pun ibu perlu mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai hal-hal apa saja yang akan dihadapi ibu selama hamil, saat persalinan dan masa menyusui. Mencari fasilitas yang dapat mendukung ibu untuk melakukan IMD, kotak kulit ke kulit, rawat gabung dan dukungan menyusui, termasuk apabila nantinya ibu atau bayi terduga maupun terinfeksi Covid-19. Fasilitas kesehatan manakah yang mampu memberi ibu dukungan penuh. Ibu dapat berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan untuk mendapatkan informasi mengenai risiko penularan, pencegahan dan apa saja yang perlu dipersiapkan saat persalinan nanti. Termasuk menyiapkan dukungan dari keluarga, sehingga nantinya ibu dapat memperoleh rasa nyaman dan aman.


Jika Anda atau bayi Anda telah diduga atau terkonfirmasi COVID-19, carilah bantuan untuk konseling menyusui, dan dukungan psikososial, untuk membantu Anda memberikan nutrisi terbaik untuk sang buah hati. Bersama kita bisa.


Reference:

  1. Breastfeeding and COVID-19" https://www.who.int/news-room/commentaries/detail/breastfeeding-and-covid-19

  2. WHO EMRO | Breastfeeding advice during the COVID-19 outbreak | COVID-19 | Nutrition site" http://www.emro.who.int/nutrition/news/breastfeeding-advice-during-the-covid-19-outbreak.html

  3. Pedoman Tatalaksana Covid-19 ed.3. Jakarta, 2020. PDPI, PERKI, PAPDI, PERDATIN, IDAI.

  4. Surat Edaran nomor HK.02.02/I/368/2021 tentang Pelaksanaan Vaksin Covid-19 pada Kelompok Sasaran Lansia, Komorbid dan Penyintas Covid-19 serta Sasaran Terunda.

  5. Surat Edaran nomor HK.02.01/I/2007/2021 tentang Vaksinasi Covid-19 Bagi Ibu Hamil dan Penyesuaian Skrining dalam Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19.


Created by:

dr. Lea S, M.Sc, Sp.A, IBCLC - Dokter Spesialis Anak & Konselor Laktasi (Sahabat Menyusui)

dr. Felicia Hayati - Konselor Laktasi (Sahabat Menyusui)

Reviewed by:

dr.andina F.R - Konselor Laktasi (Sahabat Menyusui)


23 views0 comments

Recent Posts

See All