Search
  • Cegah Stunting

Pejuang Pencegahan Stunting yang Belum Banyak Dikenal



Kira-kira selama ini apa ya peran tim perawat dalam mencegah stunting? Sebuah pertanyaan yang mencetus berbagai kisah inspiratif oleh para perawat yang dengan kesabaran dan keterampilannya turut berperan dalam mencegah dan mengatasi stunting pada anak. Kami memutuskan untuk menulis artikel 2 dari ribuan kisah inspiratif para perawat yang telah memberikan perawatan terbaik untuk anak Indonesia dengan fasilitas yang dimiliki.


Suatu sore yang cerah, di Instalasi Gawat Darurat (IGD) sebuah RSUD di kota kecil Kalimantan, dipenuhi polisi, warga, dan jurnalis. Seorang bayi laki-laki dengan berat badan 700 gram ditemukan di sebuah tempat penampungan sementara (TPS) dekat rumah warga. Kondisi bayi sangat lemah, dingin, pucat, tim di IGD harus memberikan bantuan napas pada bayi. Setelah kondisi cukup stabil, bayi yang seharusnya kami rujuk ke RS rujukan yang lebih lengkap fasilitasnya akhirnya harus kami rawat dengan fasilitas dan sumber daya yang ada.


Setiba di ruang perawatan bayi, aroma menyengat dari bayi memenuhi ruang perawatan, tim perawat segera membersihkan dan memasang alat yang diperlukan bayi. Meskipun status pertanggungjawaban perawatan bayi belum jelas, tim perawat memberikan perawatan dengan teliti dan terampil. Bahkan tim perawat juga mengusahakan semua proses birokrasi ke dinas sosial, rumah sakit dan kepolisian untuk melindungi bayi. Dengan kesabarannya, mereka menghadapi para jurnalis, warga dan polisi yang hendak membantu, meliput atau hanya mengunjungi bayi.


Sejak hari pertama perawatan, bayi mendapatkan ASI perah yang diusahakan tim perawat. Perawatan bayi berlangsung cukup baik. Kondisi bayi yang kritis 3 hari pertama pun terlewati dengan baik. Minggu ke-2 perawatan, tim perawat mengenalkan calon orang tua yang akan mengasuh bayi nantinya. Proses surat menyurat ke dinas sosial dan rumah sakit juga dibantu oleh tim perawat. Selain mendampingi calon ibu asuh melakukan perawatan bayi lekat (perawatan bayi metode kanguru), tim perawat juga mendampingi ibu asuh untuk cara perawatan bayi.


Bayi kami rawat selama 3 bulan dengan tim perawat yang peduli dan terampil, Ibu berhasil mendampingi perawatan bayi sampai kondisi baik dan kuat dengan berat badan 1.700 gram, bayi diizinkan melanjutkan perawatan di rumah. Selama perawatan bayi di rumah, tim perawat ini pun dengan suka rela melakukan kunjungan seminggu 2 kali pada 3 bulan pertama untuk memastikan kondisi bayi.


Kisah kedua…

Di ruang rawat inap anak RSUD sebuah kabupaten pemekaran di Kalimantan, seorang anak perempuan usia 3 bulan dirawat untuk ke 2 kalinya karena sesak dan kondisi malnutrisi. Orang tua anak yang masih belia, belum mengerti betul cara perawatan anak. Dalam 1 bulan anak mengalami 2 episode diare dan radang paru. Ibunya telah memberi ASI dan susu formula tambahan untuk anak, namun anak yang lahir sehat dengan berat badan 2.700 gram, di usia 4 bulan, beratnya hanya 3.000 gram. Selain memberikan perawatan dari dokter, melihat kondisi bayi yang sangat lemah, kepala perawat ruangan yang baru kembali bekerja dari cuti melahirkan pun segera memerah ASI-nya untuk bayi tersebut. Selama perawatan, tim perawat mengevaluasi cara pemberian ASI dan susu formula yang dikerjakan ibu dan neneknya. Pemberian ASI yang dilakukan ibu selama ini keliru, cara membuat dan memberikan susu formula juga keliru, ditambah lagi sang ayah yang merokok di dalam rumah.


Sambil membantu pemberian obat bayi dan ASI perah, tim perawat pun mendampingi ibu untuk dapat menyusui dan dalam pemberian ASI perah. Nenek bayi yang juga kurang mengerti cara perawatan bayi, membersihkan botol, pemberian susu, dan pemberian obat pada bayi. Selain itu, tim juga memberikan penjelasan pada ayah bayi mengenai bahaya asap rokok pada bayi dan keluarganya.


Setelah perawatan selama 7 hari kondisi anak pun membaik. Kami bermaksud melanjutkan perbaikan gizi anak di rumah pemulihan gizi yang ada di kabupaten terdekat, namun keluarga menolak karena terkendala jarak. Tim perawat membantu dengan kesepakatan, penimbangan dan menilai kondisi umum bayi setiap 1 minggu di ruangan.


Nah, inilah dua kisah yang mewakili beribu kisah peran para perawat dalam memperjuangkan seorang bayi dan anak untuk mendapatkan asuhan nutrisi yang baik. Dapat kita bayangkan, jika saja para perawat ini mendapatkan keterampilan dan kewenangan yang lebih baik, peranan para perawat dalam membantu mencegah dan mengatasi stunting dapat lebih besar.


Created by:

dr. Lea Sutrisna, M.Sc., SpA - Konselor Menyusui, Dokter Spesialis Anak ( Sahabat Menyusui)

Reviewed by:

dr. Andina Firza Raden - Konselor Menyusui (Sahabat Menyusui)

Designed by:

Hansel D. Bandaso - CIMSA

31 views0 comments

Recent Posts

See All