Copy, cut and paste disabled


top of page

Bulan Vitamin A: Kapsul Vitamin A Sehatkan Mata dan Raga Balita Tercinta



Bulan Februari dan Agustus adalah bulan dimana anak usia 6-59 bulan terjadwal untuk mendapatkan suplementasi vitamin A yang gratis dan terstandar dari Pemerintah Indonesia [1]. Sebenarnya apasih itu vitamin A? Mengapa vitamin A penting untuk buah hati Sobat Penting (Pencegah Stunting)? Lantas bagaimana cara mendapatkannya? Artikel ini akan membawa Sobat Penting dalam perjalanan singkat untuk mengenal lebih dekat suplementasi vitamin A, serta menjawab pertanyaan-pertanyaan yang Sobat Penting miliki seputar vitamin A nih!


Vitamin A adalah suatu vitamin larut lemak yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan mata, mengatur pembelahan dan pertumbuhan sel, pembentukan tulang, serta kekebalan imun tubuh [2] [3]. Berdasarkan angka kecukupan gizi harian, anak usia 6 bulan-3 tahun dan 4-6 tahun memerlukan asupan vitamin A 400 dan 450 mcgRAE tiap harinya [4]. Sebenarnya vitamin A ini dapat diperoleh dari makanan sehari-hari, baik dari sumber hewani atau nabati, dengan harga terjangkau loh. Sumber nabati yang baik adalah sayuran berwarna kuning, merah dan hijau seperti ubi (1403 mcgRAE tiap buah), bayam (573 mcgRAE tiap ½ gelas), dan wortel (459 mcgRAE tiap ½ gelas). Bila sang buah hati belum tertarik untuk makan buah sayur, ayah bunda bisa memilih alternatif produk hewani seperti hati sapi (7743 mcgRAE tiap 100 gram), ikan (258 mcgRAE tiap 100 gram), dan telur (75 mcgRAE tiap butir) karena terkenal memiliki kandungan vitamin A yang tinggi. Beberapa produk olahan, seperti margarin dan sereal, juga ada yang difortifikasi/ditambahkan dengan vitamin A [5][6]. Jangan lupa dalam menyiapkan makanan pastikan si kecil mengkonsumsi makanan yang beragam, bergizi, seimbang, dan aman.



Kekurangan vitamin A (KVA) adalah kekurangan zat gizi mikro khususnya vitamin A. Studi yang dilakukan di Indonesia menunjukkan bahwa angka kematian anak Indonesia yang mengalami kekurangan vitamin A ringan rata-rata 4 kali lipat lebih tinggi dibandingkan anak yang tidak mengalami kekurangan vitamin A [7]. KVA juga merupakan salah satu penyebab utama kebutaan pada anak yang dapat dicegah. Selain itu, KVA juga menyebabkan anak mudah mengalami infeksi saluran cerna dan napas, serta menurunkan kemungkinan anak untuk bertahan hidup bila terjangkit penyakit serius loh Sobat Penting! Ditambah lagi, KVA dapat menghambat pertumbuhan tulang dan tinggi sang buah hati. Mengingat besarnya dampak dari KVA, Sobat Penting sebaiknya mengawasi apakah si kecil mengalami rabun senja yang merupakan tanda awal dari defisiensi vitamin A [8]. Pada kondisi lanjut biasanya akan muncul tanda dan gejala seperti mata kering, bercak bitot, dan ulkus kornea. Bilamana hal itu terjadi, segera konsultasikan ke dokter spesialis anak atau mata terdekat ya.


KVA yang umumnya terjadi pada anak-anak yang tidak mendapatkan asupan makanan kaya vitamin A yang cukup atau mengalami infeksi berulang dan kronis (terutama infeksi campak dan diare) [8]. Kedua hal ini membuat anak-anak berada pada risiko tinggi mengalami KVA, terutama mereka yang berasal keluarga sosioekonomi rendah dan daerah 3T [9]. Indonesia masih belum sepenuhnya terbebas dari masalah KVA ini. Faktanya, studi menunjukan ada klaster-klaster masyarakat dengan angka KVA yang mencapai 18% loh Sobat Penting [9]! Selain itu, walau cakupan nasional vitamin A di Indonesia mengalami kenaikan dari tahun ke tahun bahkan mencapai 86,3% pada tahun 2020 [10][11]. Di sisi lain, data yang sama juga menunjukkan kesenjangan yang ketara karena masih ada provinsi dengan cakupan vitamin A di bawah 25%, seperti Papua (20,7%) [12].


Walaupun akhir-akhir ini KVA jarang Sobat Penting temukan, KVA pernah menjadi salah satu masalah kesehatan besar di Indonesia loh. Faktanya, Survei Vitamin A yang dilakukan di tahun 1992 yang menunjukkan 50% balita mengalami kekurangan vitamin A [13]. Angka ini mengalami penurunan signifikan menjadi 1% di tahun 2014 [14]. Penurunan tersebut dilansir akibat strategi penanggulangan KVA, yakni Bulan Vitamin A [13].



Bulan vitamin A yang pada bulan Februari dan Agustus dirayakan secara nasional sejak tahun 1991 sampai sekarang [15]. Pada kedua bulan ini Sobat Penting dapat pergi ke puskesmas dan posyandu terdekat untuk mendapatkan suplementasi vitamin A secara gratis dalam bentuk kapsul biru (dosis 100.000 IU) untuk bayi umur 6-11 bulan dan kapsul merah (dosis 200.000 IU) untuk anak umur 12-59 bulan [16]. Kapsul tersebut akan dipotong menggunakan gunting dan diteteskan kedalam mulut anak [13]. Bagi anak yang bisa menelan, tenaga kesehatan/ kader terlatih akan memberikan satu kapsul untuk langsung diminum si kecil [13]. Sampai saat ini, pemberian vitamin A belum direkomendasikan untuk bayi baru lahir dan anak usia 1-5 bulan[13]. Sobat Penting dapat memberikan vitamin A kepada anak usia 1-5 bulan ini lewat asi eksklusif[17].



Pada prinsipnya, pemberian vitamin A dosis tinggi setiap 6 bulan sampai usia 5 tahun dikarenakan vitamin A dosis tunggal yang tinggi memiliki daya serap dengan baik dan disimpan di hati [17]. Cadangan di hati ini akan kemudian digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan memberikan memberikan perlindungan yang memadai selama 6 bulan [17]. Pada sebagian besar anak, dosis vitamin A di atas dapat ditoleransi dengan baik. Meskipun terdapat laporan bahwa 3% anak mendapat efek samping ringan dan sementara (hilang dalam 24 jam), seperti sakit kepala, mual, muntah, dan diare[17]. Tetapi perlu diingat, manfaat dari suplementasi vitamin A ini jauh melebihi efek samping yang kemungkinan kecil ditimbulkan.


Defisiensi vitamin A juga diasosiasikan dengan kemungkinan lebih tinggi untuk terkena stunting [18]. Studi yang dilakukan di salah satu Puskesmas di Surabaya menunjukkan bahwa suplementasi vitamin A itu berhubungan signifikan dengan penurunan angka stunting [19]. Namun, studi lain yang dilakukan di NTB menunjukkan kalau bukti yang menunjukkan bahwa kekurangan vitamin pada balita merupakan faktor risiko untuk penyakit ini [20]. Masih perlu dilakukan penelitian untuk menentukan hubungan sebab-akibat dari keduanya, serta seberapa besar dampak dari pemberian vitamin A untuk stunting,


Studi menunjukkan anak-anak dengan usia lebih dari dua tahun lebih berisiko untuk tidak mendapatkan suplementasi dibanding anak yang lebih muda [21]. Hal ini disebabkan karena orang tua meragukan manfaat kesehatan dari vitamin A pada anak yang lebih tua. Padahal WHO tetap merekomendasikan pemberian vitamin A sampai paling tidak usia 59 bulan [17] loh.


Masih banyak faktor lain yang menyebabkan anak gagal mendapatkan suplementasi vitamin A. Riset menunjukkan bahwa anak yang tidak pernah mengikuti program penimbangan bulanan dan anak yang tidak teratur setiap bulan ke posyandu lebih berisiko untuk tidak mendapatkan vitamin A karena orang tuanya tidak mendapat informasi terkait waktu dan tempat pelaksanaan Bulan Vitamin A yang biasanya disampaikan di fasilitas kesehatan [21][22]. Oleh karena itu, Sobat Penting jangan lupa untuk rutin ke posyandu biar tidak ketinggalan informasi terkait suplementasi vitamin A ya! Sobat Penting juga dapat membagikan artikel ini ke sanak saudara dan tetangga terdekat loh.


Selamat bulan vitamin A Sobat Penting! Yuk beri Vitamin A untuk sehatkan mata dan raga balita di posyandu/puskesmas terdekat! Gratis dan aman!



Referensi:

  1. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2015). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2016 Tentang Standar Produk Suplementasi Gizi . Diakses tanggal 8 Februari 2023 dari http://hukor.kemkes.go.id/uploads/produk_hukum/PMK_No._51_ttg_Standar_Produk_Suplementasi_Gizi_.pdf

  2. Chea, E. P., Lopez, M. J., & Milstein, H. (2018). Vitamin A.

  3. Harcard T.H. Chan School of Public Health. (2022, July 5). Vitamin A. The Nutrition Source. Diakses tanggal 8 Februari 2023 dari https://www.hsph.harvard.edu/nutritionsource/vitamin-a/

  4. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2016). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2016 Tentang Standar Produk Suplementasi GizI. Diakses tanggal 8 Februari 2023 dari http://hukor.kemkes.go.id/uploads/produk_hukum/PMK_No._51_ttg_Standar_Produk_Suplementasi_Gizi_.pdf

  5. Erdman Jr, J. W., Macdonald, I. A., & Zeisel, S. H. (Eds.). (2012). Present knowledge in nutrition. John Wiley & Sons.

  6. U.S. Department of Health and Human Services. (2022, June 15). Office of dietary supplements - vitamin A and carotenoids. NIH Office of Dietary Supplements. Retrieved February 8, 2023, from https://ods.od.nih.gov/factsheets/VitaminA-HealthProfessional/#h2

  7. Sommer, A., Hussaini, G., Tarwotjo, I., & Susanto, D. (1983). Increased mortality in children with mild vitamin A deficiency. The Lancet, 322(8350), 585-588.

  8. World Health Organization. (2019). Vitamin A deficiency. World Health Organization. Retrieved February 8, 2023, from https://www.who.int/data/nutrition/nlis/info/vitamin-a-deficiency#:~:text=Night%20blindness%20is%20one%20of,damaging%20the%20retina%20and%20cornea.

  9. World Food Programme. (2022). Micronutrient Landscape in Southeast Asia Status, Strategies & Future Directions. Retrieved February 8, 2023, from https://docs.wfp.org/api/documents/WFP-0000138040/download/

  10. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Profil Kesehatan 2019. Retrieved February 8, 2023, from https://www.kemkes.go.id/downloads/resources/download/pusdatin/profil-kesehatan-indonesia/Profil-Kesehatan-Indonesia-2019.pdf

  11. Purwoko, S., Khairunnisa, M., Nursafingi, A., & Kusrini, I. (2022). Suplementasi Vitamin A Pada Anak Usia 6–59 Bulan Di Indonesia: Distribusi Dan Perspektif Spasial. Media Gizi Mikro Indonesia, 14(1), 1-10.

  12. Direktorat Bina Gizi Masyarakat Departemen Kesehatan. (2009). Panduan Manajemen Suplementasi Vitamin A. Retrieved February 8, 2023, from https://www.academia.edu/31798450/Kerjasama_PANDUAN_MANAJEMEN_SUPLEMENTASI_VITAMIN_A_DIREKTORAT_BINA_GIZI_MASYARAKAT_DEPARTEMEN_KESEHATAN_2009

  13. Sandjaja, S., Budiman, B., Harahap, H., Ernawati, F., Soekatri, M., Widodo, Y., ... & Khouw, I. (2013). Food consumption and nutritional and biochemical status of 0· 5–12-year-old Indonesian children: the SEANUTS study. British Journal of Nutrition, 110(S3), S11-S20.

  14. Dinas Kesehatan Kota Surakarta. (2019). Bulan Pemberian Vitamin A. Retrieved February 8, 2023, from https://dinkes.surakarta.go.id/bulan-pemberian-vitamin-a/#:~:text=Secara%20Nasional%2C%20bulan%20Februari%20dan,cahaya%20dari%20terang%20ke%20gelap

  15. Direktorat Kesehatan Masyarakat. Bulan Vitamin A. (2019). Kementrian Kesehatan Republik Indonesia Retrieved February 8, 2023, from https://kesmas.kemkes.go.id/konten/133/0/bulan-vitamin-a#:~:text=Jakarta%20%2D%20Bulan%20Februari%20dan%20Agustus,anak%20umur%2012%2D59%20bulan.

  16. World Health Organization. (2011). Guideline: vitamin A supplementation in infants and children 6-59 months of age. World Health Organization.

  17. Ssentongo, P., Ba, D. M., Ssentongo, A. E., Fronterre, C., Whalen, A., Yang, Y., ... & Chinchilli, V. M. (2020). Association of vitamin A deficiency with early childhood stunting in Uganda: A population-based cross-sectional study. PLoS One, 15(5), e0233615.

  18. Putri, M. G., Irawan, R., & Mukono, I. S. (2021). the Relationship of Vitamin a Supplementation, Giving Immunization, and History of Infection Disease With the Stunting of Children Aged 24-59 Months in Puskesmas Mulyorejo, Surabaya. Media Gizi Kesmas, 10(1), 72.

  19. Taufiqurrahman, T., Hadi, H., Julia, M., & Herman, S. (2009). Defisiensi Vitamin A dan Zinc Sebagaifaktor Risiko Terjadinya Stunting pada Balita di Nusa Tenggara Barat. Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 19(3), 152719.

  20. Mostafa, I., Islam, S. F., Mondal, P., Faruque, A. S. G., Ahmed, T., & Hossain, M. I. (2019). Factors affecting low coverage of the vitamin A supplementation program among young children admitted in an urban diarrheal treatment facility in Bangladesh. Global Health Action, 12(1), 1588513.

  21. Ernawati, F., & Sandjaja, S. (2016). Status Vitamin A Anak 12-59 Bulan dan Cakupan Kapsul Vitamin A di Indonesia. Penelitian Gizi Dan Makanan.


Ditulis oleh: Wilsen Widal Kho, S.Ked (CIMSA)

Infografik oleh:

- Oriana Zahira Putri (CIMSA)

- Wilson Khodavian (CIMSA)

Direview oleh: dr. Agustina, Sp.A

Comments


bottom of page