Search
  • Cegah Stunting

Cerebral Palsy: Apa yang Perlu Dipahami

Setiap ibu berharap anak yang dikandungnya akan tumbuh kuat dan sehat. Terdapat berbagai faktor yang dapat menyebabkan anak-anak akan mengalami masalah yang dapat diderita seumur hidup dan menjadi masalah atau mimpi buruk bagi orang tua. Salah satu kondisi yang menimbulkan efek seumur hidup adalah cerebral palsy. Banyak yang telah melihat anak-anak dengan kondisi ini dan hampir tidak ada yang tahu apa yang salah dengan mereka, banyak juga yang bertanya-tanya apa itu cerebral palsy dan bagaimana seseorang dapat hidup dengan kondisi seperti itu?




Cerebral Palsy (CP) adalah sekelompok gangguan yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk bergerak dan menjaga keseimbangan dan postur. Kondisi ini dapat terjadi sebelum lahir, selama kelahiran, dalam waktu satu bulan setelah kelahiran, atau selama tahun-tahun pertama kehidupan seorang anak, saat otak masih berkembang. Mayoritas kasus CP (85%-90%) adalah bawaan dari sebelum atau selama kelahiran. Namun dalam banyak kasus, penyebab spesifiknya tidak diketahui.



Cerebral palsy merupakan gangguan perkembangan neuromotor yang sering terjadi pada anak. Berdasarkan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), sekitar 1 dari 345 kelahiran telah diidentifikasi dengan kondisi ini secara global. Kondisi ini tidak turun temurun atau menular tetapi merupakan kondisi seumur hidup. Pada tahun 2019, tercatat lebih dari 17 juta orang di seluruh dunia hidup dengan cerebral palsy, tidak terbatas pada usia anak-anak.


Ada berbagai jenis atau tingkatan cerebral palsy. Kadarnya ditunjukkan oleh intensitas kerusakan yang ditimbulkan di otak dan manifestasi dari gangguan tersebut. Ada tanda-tanda dasar cerebral palsy yang tidak memperhatikan tingkat kerusakan di otak. Ketika seseorang mengalami cerebral palsy, ia mungkin mengalami masalah dalam menjaga keseimbangan dan koordinasi otot. Ia juga mungkin mengalami kesulitan dalam mengendalikan otot-ototnya, sehingga mengalami kesulitan dalam makan, minum, berdiri, dll.


Diagnosis CP didasarkan pada pemantauan perkembangan fisik dan motorik seiring waktu. Terdapat empat kategori cerebral palsy adalah 1) spastik atau kaku otot, 2) athetoid atau gerak tak terkontrol, 3) ataxic untuk keseimbangan yang buruk, dan 4) kombinasi. Tiga kategori pertama berbeda menurut tempat kerusakan di otak dan intensitasnya. Kategori keempat adalah yang terburuk, karena saat itulah seseorang mungkin mengalami dua hingga tiga kategori digabungkan.



Hingga kini, cerebral palsy belum ditemukan obatnya. Tetapi berkat teknologi, layanan sosial, dan dukungan lainnya, orang-orang yang menderita cerebral palsy memiliki peluang yang lebih baik dari sebelumnya untuk menjalani kehidupan yang mandiri dan memuaskan. Terdapat terapi yang dapat membantu seseorang yang terkena untuk mendapatkan kembali sedikit koordinasi dan kontrol. Jenis terapi disesuaikan dengan usia, tingkat keparahan dan jenis cerebral palsy dan area otak mana yang rusak. Semakin cepat cerebral palsy terdeteksi dan menjalani terapi, semakin besar pula kemungkinan seorang pengidap cp dapat mengejar ketertinggalannya. Untuk itu, pendamping perlu bekerjasama dengan tim medis untuk memberi perlakuan dan terapi secara mandiri agar hasil yang didapat bisa semakin maksimal.


Reference:

  1. Adult Cerebral Palsy Care. Uofmhealth.org. (2021). Retrieved 6 October 2021, from https://www.uofmhealth.org/conditions-treatments/rehabilitation/adult-cerebral-palsy-care.

  2. Alli, R. (2021). Living with Cerebral Palsy as an Adult. WebMD. Retrieved 6 October 2021, from https://www.webmd.com/brain/tips-adults-with-cerebral-palsy.

  3. Anindita, A. and Apsari, N., 2020. Pelaksanaan Support Group pada Orangtua Anak dengan Cerebral Palsy. Jurnal Pekerjaan Sosial, 2(2), p.208.

  4. What is Cerebral Palsy?. Centers for Disease Control and Prevention. (2021). Retrieved 6 October 2021, from https://www.cdc.gov/ncbddd/cp/facts.html.

  5. World CP Day – October 6th. Worldcpday.org. (2020). Retrieved 6 October 2021, from https://worldcpday.org.


Created by:

Maharani Suradi Putri - ask Force Marketing, Campaign, and Advocacy Director CIMSA

Reviewed by:

dr. Agustina, Sp.A., M. Kes - Dokter Spesialis Anak

Designed by:

dr. Dhiya Khoirunnisa



13 views0 comments

Recent Posts

See All