Copy, cut and paste disabled


top of page

Perilaku Merokok dan Kaitannya dengan Kejadian Stunting.



Telah menjadi rahasia umum bahwa perilaku merokok menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan, menyebabkan penyakit hingga kematian. Menurut World Health Organization, sekitar 225.700 orang di Indonesia meninggal dunia setiap tahun akibat rokok atau penyakit yang disebabkan oleh zat-zat berbahaya yang terkandung didalam rokok [1]. Menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), rokok juga ikut andil menjadi penyebab kejadian stunting di Indonesia [2]. Rokok menjadi salah satu faktor risiko penting yang menyebabkan Indonesia menduduki urutan ke-108 dari 132 negara dengan kejadian stunting tertinggi di dunia sekaligus tertinggi ketiga di kawasan ASEAN setelah Timor Leste dan Laos [3]. Pada Januari 2023, Kementerian Kesehatan mengumumkan bahwa prevalensi stunting di Indonesia mengalami penurunan dari 24,4% di tahun 2021 menjadi 21,6% di 2022 [4]. Pemerintah melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020–2024 menargetkan pada tahun 2024 mampu menurunkan prevalensi stunting hingga 14% [5]. Permasalahan stunting menjadi fokus utama yang harus segera ditangani pemerintah termasuk pengendalian faktor risiko, salah satunya adalah pengendalian konsumsi rokok [6].


Prevalensi merokok di Indonesia mengalami penurunan dari 29,3% pada tahun 2013 menjadi 28,8% pada tahun 2018 [7]. Namun, proporsi perokok laki-laki yang berusia muda menjadi paling tinggi di Asia. Bahkan, perokok usia sekolah (15–19 tahun) meningkat dua kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir [8]. Perokok remaja diprediksi sebagai calon pelanggan tetap industri rokok yang setengah dari jumlah tersebut akan terus merokok seumur hidup mereka [9]. Hal ini bermakna bahwa perilaku merokok akan tetap dilanjutkan sampai remaja tersebut memasuki tahapan berumah tangga dan menjadi orang tua. Padahal, orang tua yang merokok memiliki risiko tiga kali lebih besar memiliki anak yang menjadi perokok pada usia remajanya. Kecenderungan ini merupakan permasalahan yang harus segera ditangani karena risiko menyebabkan mata rantai perokok semakin sulit diputuskan [10].



Fenomena perokok di usia remaja juga berkaitan dengan dampak kesehatan. Studi literatur oleh Khairunniza (2019) menyatakan bahwa terdapat hubungan signifikan antara kebiasaan merokok terhadap penyakit tidak menular seperti hipertensi, stress, jantung koroner, penyakit paru obstruksi kronis (PPOK), dan kanker paru [11]. Perilaku merokok pada laki-laki juga menjadi faktor penyebab menurunnya kualitas sperma yang memicu berbagai permasalahan pada kesehatan reproduksi [10]. Pria yang merokok 10-20 batang per hari memiliki kecenderungan 7,2 kali untuk mengalami kualitas sperma abnormal dibandingkan pria yang tidak merokok [12]. Hal ini dapat meningkatkan risiko infertilitas (kemandulan) bahkan keguguran (abortus) pada saat kehamilan [13]. Penyebab terjadinya abortus salah satunya adalah hasil konsepsi yang tidak dapat berkembang dengan baik dikarenakan penurunan kualitas morfologi sperma [12]. Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), DR (H.C). dr. Hasto Wardoyo, SpOG (K) mengatakan bahwa “Toxic rokok ini mempengaruhi prenatal dan postnatal, sehingga pasangan suami istri yang menjalani program ingin punya anak, direkomendasikan agar suami berhenti dulu merokok selama 70 hari sebelum konsepsi karena toxic nya bisa menurunkan kualitas sperma” [2].


Pengaruh negatif dari perilaku merokok juga dialami oleh perokok pasif. yaitu seseorang yang tidak merokok namun terpapar asap rokok dari yang lain [14]. Data Survei Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) menunjukkan bahwa 92% perokok di Indonesia melakukan aktivitas merokoknya di dalam rumah ketika bersama-sama dengan anggota keluarga lainnya. Hal ini mengakibatkan mereka yang tidak merokok ikut terpapar asap rokok (sebagai perokok pasif) termasuk ibu hamil dimana hal itu dapat berakibat buruk terhadap kesehatan dan perkembangan bayi yang dikandungnya [15].


Paparan asap rokok mengandung karbon monoksida dan benzena yang merupakan residu dari pembakaran rokok dan menyebabkan menurunnya jumlah sel darah merah dan merusak sumsum tulang belakang sehingga meningkatkan risiko terjadinya anemia pada ibu hamil [16]. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar Tahun 2018 menyatakan bahwa proporsi ibu hamil yang mengalami anemia meningkat secara signifikan dari 37,1% pada tahun 2013 menjadi 48,9% pada tahun 2018 [17]. Salah satu faktor penyebabnya adalah paparan asap rokok. Ibu hamil yang terpapar asap rokok mempunyai risiko sebesar 4,09 kali mengalami anemia dibandingkan ibu hamil yang tidak terpapar asap rokok [18]. Anemia berdampak pada menurunnya jumlah nutrient ke sel, jaringan, dan kelenjar terutama kelenjar yang menghasilkan hormon tiroid dan hormon pertumbuhan [19]. Kadar hormon tiroid yang rendah dalam masa pertumbuhan dapat menyebabkan terjadinya stunting. Status tiroid normal pada masa anak diperlukan untuk pertumbuhan normal dan perkembangan saraf. Hormon pertumbuhan juga sangat diperlukan dalam pertumbuhan pada masa bayi karena berperan penting didalam jaringan perifer terhadap proses metabolisme energi, komposisi tubuh, metabolisme tulang, sistem imun, dan fungsi otot [20]. Hal ini yang menjadi dasar risiko kejadian stunting pada ibu hamil dengan anemia. Ibu hamil yang menderita anemia memiliki risiko 4 kali terjadinya anak mengalami stunting dibandingkan dengan ibu yang tidak anemia [21].



Kaitan merokok dan kejadian stunting diungkapkan oleh dr. Hasto Wardoyo, SpOG (K) yang menyebutkan bahwa paparan asap rokok akan meningkatkan risiko stunting pada anak yang berusia 25-59 bulan sebesar 13,49 kali. Paparan asap rokok mengganggu penyerapan gizi pada anak sehingga akan berdampak buruk pada tumbuh kembangnya [6]. Hasil yang serupa ditemukan dalam penelitian yang dilakukan oleh Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI). Penelitian ini menggunakan dataset longitudinal (1997 – 2014) dari Indonesian Family Life Survey (IFLS) menemukan bahwa perilaku merokok telah berdampak pada kondisi stunting anak-anak yang ditunjukkan pada tinggi dan berat badan [6]. Lebih lanjut, perilaku merokok yang menyebabkan kejadian stunting tidak hanya berhubungan dengan aspek kesehatan ibu hamil dan bayi, namun juga terkait pemenuhan kebutuhan pokok keluarga. Alokasi uang belanja yang harusnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi keluarga berkurang karena dipakai untuk belanja rokok [22]. Hasil dari perhitungan belanja pangan rumah tangga perdesaan dan perkotaan pada tahun 2013 dan 2018 ditemukan bahwa alokasi untuk pembelian rokok dan tembakau berkisar diangka 10,4-13,83%, sementara untuk telur dan susu hanya berkisar 4,74-6,99%, sayur-sayuran 8,39-10,02%, ikan 7,2-8,77%, daging 2,88-5,05% dan buah-buahan 3,94-4,89% [23]. Persentase pembelian rokok lebih tinggi daripada pembelian bahan makanan yang bergizi dan bermanfaat untuk kesehatan keluarga khususnya berkaitan dengan upaya mengoptimalisasikan tumbuh kembang anak. Hal inilah yang secara tidak langsung akan menyebabkan stunting pada anak dikarenakan pemenuhan kebutuhan nutrisi yang kurang memadai.



Dengan demikian, perilaku merokok ternyata memiliki andil dalam kejadian stunting secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung rokok dan paparan asap rokok akan menurunkan kualitas sperma, menyebabkan anemia pada ibu hamil dan berkurangnya hormon pertumbuhan pada bayi. Secara tidak langsung, perilaku merokok juga menggeser prioritas pembelanjaan keluarga yang seharusnya dialokasikan untuk pembelian bahan makanan bergizi menjadi pembelian rokok. Selain edukasi perilaku tidak merokok, Pemerintah harus mempunyai political will melalui regulasi yang kuat untuk mengendalikan konsumsi rokok, terlebih karena merokok berkontribusi pada kejadian stunting yang menjadi prioritas nasional dalam pembangunan manusia.


Penulis : Muhamad Abi Zakaria., S.Kep., Ns

Reviewer: Dr. dr. Brian Sri Prahastuti, MPH



Referensi :

  1. Biro Umum dan Humas BKKBN. 2021. Rokok, Sperma dan Stunting. https://www.bkkbn.go.id/berita-rokok-sperma-dan-stunting

  2. Mahadi, Tendi. 2022. BKKBN: Rokok Jadi Faktor Indoensia Duduki Posisi 108 Stunting di Dunia. https://nasional.kontan.co.id/news/bkkbn-rokok-jadi-faktor-indoensia-duduki-posisi-108-stunting-di-dunia

  3. LAMPIRAN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2020 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH NASIONAL 2020-2024

  4. P2PTM Kemenkes RI. (2018). Konsumsi Rokok Akibatkan Anak Stunting. Retrieved May 15, 2023, from https://p2ptm.kemkes.go.id/kegiatan-p2ptm/pusat-/konsumsi-rokok-akibatkan-anak-stunting

  5. Kementerian Kesehatan RI. 2018. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian RI.

  6. FKKMK-UGM. 2018. Perilaku Merokok dan Tantangan Promosi Kesehatan. https://fkkmk.ugm.ac.id/perilaku-merokok-dan-tantangan-promosi-kesehatan/

  7. Sutha, D. W. 2018. Pengetahuan dan Perilaku Merokok Pelajar Sekolah Menengah Pertama. Jurnal Manajemen Kesehatan Yayasan RS Dr. Soetomo, 4(1).

  8. Duhita, F & Rahmawati, N. I. 2019. Dampak Kesehatan Anak Pada Periode Embrio, Janin, Bayi dan Usia Sekolah dengan Ayah Perokok. Jurnal Kesehatan Vokasional, Vol. 4 No. 1

  9. Khoirunniza., Susanto. E & Nugraha, A. (2019). Hubungan Kebiasaan Merokok Terhadap Penyakit Tidak Menular. PROSIDING SEMINAR NASIONAL “MENJADI MAHASISWA YANG UNGGUL DI ERA INDUSTRI 4.0 DAN SOCIETY 5.0”

  10. Sa’adah, N & Purnomo, W. 2016. Karakteristik dan Perilaku Berisiko Pasangan Infertil di Klinik Fertilitas dan Bayi Tabung Tiara Cita Rumah Sakit Putri Surabaya. Jurnal Biometrika dan Kependudukan, Vol. 5, No. 1 Juli 2016: 61–69

  11. Febriyanto, T., Sunita, R., & Farizal, J. 2022. HUBUNGAN KEBIASAAN MEROKOK DENGAN GAMBARAN MOTILITAS SPERMA PADA PEROKOK AKTIF DI KOTA BENGKULU. Journal of Nursing and Public Health Vol. 10 No. 1 April 2022

  12. Lathifah, Q. A., Hermawati, A. H., & Putri, A. Y. (2020). Review: Gambaran Nikotin pada Perokok Pasif di Kabupaten Tulungagung. Borneo Journal of Medical Laboratory Technology. 3. 178-182. 10.33084/bjmlt.v3i1.1594.

  13. Noriani, N. K., Putra, I. A. E., & Karmaya, M. (2015). Risk of house cigarette smoke exposure to the premature birth in Denpasar city. Public health and preventive medicine archive Vol. 3 No. 1, 55-59.

  14. Aksari, S. T., & Imanah, N. D. N. (2022). Usia Kehamilan Sebagai Faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil Selama Pandemi Covid 19. Jurnal Kebidanan Indonesia, 13(1), 94 - 102.

  15. Kemenkes RI. (2018). Hasil Riset Kesehatan Dasar Tahun 2018. Kementrian Kesehatan RI, 53(9), 1689–1699.

  16. Safitri, R. N & Syahrul, F. 2015. Risiko paparan Asap Rokok Terhadap Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil, The Risk Of Exposure to Cigarette Smoke in Anemia During Pregnancy, Jurnal Berkala Epidemiologi Vol.3 No.3.

  17. Sari, N. A., & Resiyanthi, N. K. A. (2020). Kejadian Stunting Berkaitan Dengan Perilaku Merokok Orang Tua. Jurnal Ilmu Keperawatan Anak, 3(2), 24–30.

  18. Kartini, Apoina et al. (2016). “Kejadian Stunting Dan Kematangan Usia Tulang Dada Anak Usia Sekolah Dasar Di Daerah Pertanian Kabupaten Brebes.” jurnal kesehatan masyarakat 11(2): 97– 103.

  19. Widyaningrum DA, Ayu Dhiyah R. (2018). Riwayat Anemia Kehamilan Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Di Desa Ketandan Dagangan Madiun. Medika Majapahit Vol 10. No. 2.

  20. Sari, N. A., & Resiyanthi, N. K. A. (2020). Kejadian Stunting Berkaitan Dengan Perilaku Merokok Orang Tua. Jurnal Ilmu Keperawatan Anak, 3(2), 24–30.

  21. Arif, S., Isdijoso, W., Fatah, A. R., & Tamyis, A. R. (2020). Tinjauan Strategis Ketahanan Pangan dan Gizi di Indonesia: Informasi Terkini 2019-2020. Laporan Penelitian SMERU. Jakarta: Smeru Research Institute.

Comments


bottom of page