Search
  • Cegah Stunting

#ZeroSeparation, Act Now!

Sebagai ibu, kita ternyata harus berterima kasih, loh, kepada kanguru! Mungkin kalian akan merasa bingung dan bertanya, “Lah, apa hubungannya ibu dan kanguru? Kenapa harus berterima kasih?” Jawabannya adalah karena dari kanguru lah kita, manusia, mendapatkan jalan keluar dari permasalahan bayi prematur!


Kepo gak cara apa yang kita contek dan kenapa harus kanguru? Jadi, ini semua dimulai dari tahun 1979 oleh dokter Ray dan dokter Martinez di Bogota, Colombia. Mereka berdua khawatir akan tingginya angka kelahiran prematur (lahir sebelum 37 minggu) dan bayi berat lahir rendah (BBLR; di bawah 2500g), ditambah lagi tingkat kematian bayi-bayi tersebut sampai dengan 70%.


Fakta tersebut membuat mereka, dibantu oleh tenaga kesehatan lainnya, mencari cara terbaik dan efektif dalam meningkatkan harapan dan kualitas hidup bayi prematur dan BBLR. Akhirnya, ditemukanlah fakta bahwa hewan berkantung dari Australia (re: Kanguru) ternyata melahirkan bayinya dengan sangat prematur. Lalu, para dokter “mencontek” cara mereka merawat bayinya.



Dari hasil pengamatan tersebut, dokter Ray-Martinez melakukan penelitian untuk membuktikan cara kanguru merawat bayinya memiliki manfaat yang sama pada bayi prematur manusia. Ternyata, terbukti bahwa cara tersebut dapat menurunkan risiko bayi terkena hipotermia hingga 80%, menurunkan tingkat kematian bayi prematur dan BBLR sampai 51% dibandingkan dengan penggunaan inkubator, dan menurunkan risiko infeksi hingga 60%. Setelah itu, mereka menyebut metodenya sebagai Kangaroo Mother Care (KMC). Di Indonesia, kita menggunakan istilah Perawatan Metode Kanguru (PMK) dengan penekanan bahwa metode ini bisa dilakukan bukan hanya oleh ibu, melainkan juga oleh ayah ataupun keluarga lain yang mengasuh bayi.


Banyaknya kasus kelahiran bayi prematur di seluruh dunia (sekitar 15 juta), membuat kita memiliki Hari Bayi Prematur sedunia yang jatuh pada tanggal 17 November sebagai sebuah upaya untuk meningkatkan kesadaran terhadap kondisi bayi prematur. Indonesia menjadi salah satu target utama hari global ini karena menempati urutan ke-5 seluruh dunia sebagai negara dengan kelahiran bayi prematur tertinggi per tahun, yaitu 675.700. Bahkan, dari 100 bayi yang lahir di Indonesia, terdapat 15–16 bayi yang lahir prematur, angka ini menempatkan kita di posisi 10 besar prevalensi kelahiran bayi prematur dunia. Cukup banyak, ya? Tapi, tidak usah khawatir! Kita dapat melakukan PMK dengan mudah, loh!


PMK menggunakan prinsip skin-to-skin contact dan kebersamaan ibu-anak dengan tidak memisahkan mereka sebagai dasarnya. PMK terdiri atas 4 komponen utama yang perlu diperhatikan untuk keberhasilannya, yakni:



1. Posisi PMK

Posisi untuk melakukan PMK diatur sedemikian rupa agar bayi dan ibu sama-sama nyaman, sebagai berikut :



  • Pakai baju yang terbuka bagian dadanya serta tanpa bra supaya terjadi kontak kulit bayi dan kulit ibu seluas mungkin!

  • Tempelkan bayi (telanjang, hanya mengenakan popok) ke dada Ibu dengan tegak! Hadapkan kepalanya ke sisi kanan atau kiri dengan sedikit tengadah agar bisa bernapas dan menatap ibu.

  • Tutupi dan amankan punggung bayi dengan kain. Bayi akan terlihat seperti berada di kantung kanguru!

  • Relaks dan nikmati waktu bersama bayi!

  • Rencanakan beberapa sesi. Posisi ini harus dilakukan setidaknya 1 jam dalam 4-5 kali seminggu, diskusikan jadwal dengan tim yang menangani, ya!

p.s Ayah juga diharapkan dapat melakukan ini, ya!


2. Nutrisi bayi dalam PMK

Meningkatkan pemberian ASI, baik secara langsung maupun perah.


3. Dukungan keluarga bayi dalam PMK dan pemantauan kondisi bayi

Karena kondisi bayi prematur, ibu seringkali jadi lebih stres. Maka dari itu, sangat diperlukan bantuan secara fisik maupun mental dari keluarga dan tenaga medis kepada ibu!


4. Pemulangan bayi dalam PMK

Membiasakan PMK sangatlah penting! Diharapkan setelah pulang dari rumah sakit, keluarga bayi tetap melakukannya secara kontinyu.


Cukup mudah, ya? Selain mudah, manfaat yang didapatkan oleh bayi dan ibunya sangat banyak, loh! PMK dapat meningkatkan kedekatan orang tua dan bayi dengan meningkatkan responsivitas Ibu terhadap tanda-tanda yang diberikan bayi seperti detak jantung dan ritme napas, memudahkan pemberian ASI sebagai kebutuhan gizi utama bayi, stimulasi, keselamatan hingga perlindungan infeksi, hingga kasih sayang. Oleh karena itu, PMK dapat berpengaruh besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan bayi secara holistik!


PMK ini dapat dilakukan untuk semua bayi, bahkan bayi dengan kondisi yang membutuhkan perawatan intensif dan khusus. Perbedaannya adalah untuk bayi-bayi dengan kondisi khusus, PMK tidak dilakukan secara kontinyu melainkan dilakukan secara intermitten. Maksudnya, orang tua dapat melakukan PMK tiap kali menjenguk bayinya di ruang perawatan khusus atau dalam inkubator, tidak perlu setiap saat. PMK tetap dilakukan dengan minimal waktu 1 jam tiap kunjungannya.


Pada masa pandemi ini, pembatasan kontak fisik secara langsung telah memberikan banyak pihak ragu untuk memberikan PMK kepada bayi, termasuk Ibu. Namun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan agar ibu perlu tetap berbagi kamar dengan bayinya sejak lahir dan dapat menyusui serta melakukan kontak fisik, bahkan bila ibu diduga atau telah terinfeksi coronavirus disease 2019 (COVID-19). Selama kontak dilakukan serta disupervisi secara tepat, manfaat PMK dapat menjadi 65 kali lipat lebih tinggi daripada risiko kematian COVID-19!


Jadi, jangan khawatir, ya, kalau bayi Anda terlahir prematur atau lahir dengan berat rendah maupun dalam kondisi pandemi ini! Diskusikan kepada dokter untuk keputusan yang terbaik karena yang terpenting adalah kesehatan dan kenyamanan Ibu dan bayi.


Dekatkan jantung ibu dan anak, tingkatkan harapan hidup bangsa! Sehat negeriku, tumbuh Indonesiaku! #ZeroSeparation, Act now!

Reference:

  1. Preterm birth. Who.int. (2021). Retrieved 13 November 2021, from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/preterm-birth.

  2. IDAI | Perawatan Metode Kanguru (PMK) Meningkatkan Pemberian ASI. Idai.or.id. (2021). Retrieved 13 November 2021, from https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/perawatan-metode-kanguru-pmk-meningkatkan-pemberian-asi.

  3. Kangaroo Care: What it is, Benefits & How To Do It. Cleveland Clinic. (2021). Retrieved 16 November 2021, from https://my.clevelandclinic.org/health/treatments/12578-kangaroo-care.

  4. (2021). Retrieved 16 November 2021, from https://www.scielo.br/j/cadbto/a/3rQhxN3Q8M65QgBrQr3CD8p/?lang=en.

  5. Perkumpulan Peritanologi Indonesia. (2012). Panduan Pelayanan Perawatan Metode Kanguru Di Rumah Sakit Tingkat Kabupaten [Ebook]. Retrieved 16 November 2021, from https://pdf.usaid.gov/pdf_docs/PA00JPNN.pdf.

  6. MediaKom. 2021. WHO: Jangan Pisahkan Ibu Dan Bayi. [online] Available at: <https://mediakom.kemkes.go.id/v2/2021/04/who-jangan-pisahkan-ibu-dan-bayi/> [Accessed 17 November 2021].

  7. Born To Soon. Who.int. (2021). Retrieved 17 November 2021, from https://www.who.int/pmnch/media/news/2012/borntoosoon_chapter5.pdf.


Created by:

Brigitta Maulani A.S.P - CIMSA

Reviewed by:

dr. Wahdini Hakim, MWH - Pemerhati dan Pakar Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir

Designed by:

dr. Dhiya Khoirunnisa



56 views0 comments

Recent Posts

See All