Search
  • Cegah Stunting

Air: Kebutuhan Penting Tubuh Kita

Tahukah anda kalau 70% tubuh manusia terbentuk oleh cairan? Dalam tubuh, air berperan dalam pengaturan suhu serta bertindak sebagai media transportasi nutrisi dan zat sisa yang dikeluarkan melalui urin, feses, dan keringat. [8] Air dapat bersumber dari mana saja, seperti tanah, air hujan yang ditampung, sungai, hingga air minum dalam kemasan. Kebersihan sumber air, cara penyimpanan, serta pengolahan limbah yang dapat mengontaminasi sumber air sangatlah penting untuk menjaga kualitasnya.


Air Bersih vs Air Minum



Awas, air bersih berbeda dengan air minum! Secara gamblang, air bersih tidak berbau, tidak berwarna, jernih, tidak berasa, dan tidak meninggalkan endapan. Air bersih dapat digunakan untuk kegiatan rumah seperti mandi, mencuci, dan menggosok gigi. Walau demikian, air bersih tidak bisa langsung diminum!


Air layak minum harus memenuhi persyaratan fisika, mikrobiologis, kimia, dan radioaktif berdasarkan kriteria yang ditetapkan pada Permenkes No. 492 Tahun 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Secara tak kasat mata, “air bersih” masih dapat mengandung mikroba penyebab diare, disentri, hepatitis, dan demam tifoid serta bahan kimia seperti aluminium, besi, klorida, sianida, tembaga, dan seng. Sampel air perlu dibawa ke laboratorium untuk menentukan kelayakanya sesuai peraturan yang berlaku. Faktanya saat ini, 2.2 miliar orang masih kekurangan akses air layak minum. Padahal, kontaminan berbahaya dapat menyebabkan infeksi dan keracunan jika diminum tanpa pengolahan lebih lanjut. [7]


Sejak tahun 1981, Lembaga Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) mengangkat akronim WASH yang sampai sekarang digunakan secara umum sebagai “Water, Sanitation, and Hygiene” yang berarti air, sanitasi, dan higiene. Sanitasi dan higiene merupakan dua hal yang berbeda. Higiene adalah upaya mempertahankan atau memperbaiki kesehatan seperti mencuci tangan, memotong kuku, dan menggosok gigi. Sedangkan sanitasi adalah usaha membina dan menciptakan keadaan yang baik di bidang kesehatan seperti manajemen limbah.


Jika sumber air di rumah keruh, berikut upaya yang dapat dilakukan:

  1. Pengendapan: Air didiamkan dalam wadah dan didiamkan sehingga gaya gravitasi dapat menarik kotoran-kotoran yang beratnya lebih berat dari air ke dasar wadah.

  2. Koagulasi: Koagulasi merupakan proses penggumpalan kotoran air sehingga partikel-partikel kecil akan bergabung menjadi partikel yang lebih besar, berat, dan lebih mudah mengendap. Proses ini membutuhkan koagulan seperti polyaluminium chloride (PAC) dan tawas.

  3. Penyaringan: Penyaringan dilakukan dengan bahan alami seperti kerikil, pasir, arang, dan kain filter sehingga kotoran berpartikel kecil yang terlewat dalam proses pengendapan.

  4. Perebusan air: Proses pengendapan, koagulasi, dan penyaringan tidak dapat membunuh bakteri dan virus. Air keran yang nampak bersih pun harus digodok hingga mendidih. Air hangat ataupun suam-suam kuku tidak cukup untuk mengeliminasi mikroba tersebut. [3]

Periksakan sampel air rumah ke laboratorium terdekat untuk menjamin kualitas dan keamanannya.


Manusia dan Kebutuhan air


Orang dewasa rata-rata membutuhkan 2 liter setara dengan 8 gelas air minum sehari. Selain air minum, kebutuhan cairan juga bisa didapatkan melalui makanan seperti semangka, timun, seledri, dan jeruk. Berolahraga, diare, dan cuaca panas dapat meningkatkan kebutuhan cairan.

Apa yang terjadi jika tubuh tidak terpenuhi kebutuhan airnya? Awalnya, mulut akan terasa kering dan haus. Tubuh yang mengalami dehidrasi akan berusaha menurunkan volume cairan keluar melalui jumlah keringat, urin, dan BAB. Warna urin akan lebih pekat dan penderita dapat mengalami konstipasi. Jika tidak ditangani dengan minum yang cukup, kulit dan bibir akan menjadi kering sampai pecah-pecah. Selain itu, penderita akan hilang konsentrasi, pusing, demam, dan mengalami gangguan tekanan darah. [9]


Air minum yang diproses melalui penggodokan dapat disimpan sementara dalam wadah tertutup dengan leher sempit dan diletakkan di lokasi yang sulit terjangkau binatang, kering, dan tidak terkena sinar matahari langsung. Setiap mau minum, gunakan gelas bersih dan tuangkan air dari wadah penyimpanan tanpa mengenai mulut gelas. Selalu gunakan gelas pribadi untuk mencegah penularan dari orang ke orang walau masih satu keluarga. Cuci gelas setiap hari dan wadah penyimpanan minimal 3 hari sekali. [6]



Pencegahan kontaminasi sumber air sangatlah penting. Apakah air yang kita pakai untuk bersih-bersih, masak, dan minum berasal dari tanah yang dekat dengan tempat pembuangan limbah rumah tangga dan akhir saluran dari jamban? Menurut WHO, setidaknya ada 2 juta orang yang sumber air minumnya telah terkontaminasi oleh feses. [2] Terlebih, lebih dari 25 juta penduduk Indonesia belum menggunakan jamban dan buang air di semak-semak, hutan, dan pinggir jalan. [11] Selain menyebabkan bau yang tidak sedap dan ketidaknyamanan, buang air sembarangan dapat mempercepat penularan penyakit.

Jamban sehat harus terdiri dari 3 bagian:

  1. Bangunan atas jamban: Dinding dan atap jamban berfungsi melindungi pemakai dari gangguan cuaca dan isolasi jamban dari ruangan-ruangan lain.

  2. Jamban: Pada jamban terdapat lubang pembuangan kotoran dengan tutup (tinja dan urin) yang memiliki pipa berbentuk leher angsa yang melengkung ke cubluk ataupun tangki septik. Struktur leher angsa mencegah bau tak sedap dan aliran balik kotoran ke permukaan jamban. Lantai jamban jangan licin dan harus ada saluran pembuangan air. Saluran pembuangan air mandi dan mencuci sebaiknya dipisah dari saluran pembuangan jamban.

  3. Bangunan bawah jamban: Bangunan bawah jamban dapat menggunakan tangki septik ataupun cubluk yang lebih sederhana. Cubluk merupakan lubang galian berbentuk bundar atau segi empat yang dibangun dengan dinding penguat seperti batu/bata/bambu/bahan lainnya untuk mencegah longsoran. Mirip seperti tangki septik, bagian cair dari kotoran akan diresap oleh tanah sedangkan kotoran padat akan diurai oleh mikroba-mikroba dalam tanah. Tangki septik merupakan bak kedap air yang digunakan untuk penampungan dan tempat penguraian kotoran. Dari tangki septik, kotoran yang telah terurai akan diresap melalui daerah resapan. Karena cairan dari tangki septik akan kembali ke tanah, dianjurkan jarak antara tangki septik dan sumur minimal 10 meter. [5, 6]

Kaitan WASH dan Pencegahan Stunting


Stunting sebagai sebuah proses kegagalan tumbuh kembang pada 1000 hari pertama kehidupan disebabkan oleh tiga faktor utama, yaitu: kekurangan gizi dalam waktu lama, kurangnya stimulasi psikososial, dan infeksi yang berulang. Infeksi berulang yang sering kali terjadi adalah diare. [2] Umumnya diare menyebar melalui kontaminasi air dan makanan, tangan yang kotor, atau kotoran manusia yang tersentuh. Pencegahan utama diare adalah dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Termasuk diantaranya memastikan air minum yang bersih dan aman diminum. Air minum yang tercemar adalah penyebab utama penyebaran infeksi. Oleh karena itu, upaya WASH harus terus diperjuangkan. Kita semua bisa menjadi agen perubahan untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan nomor 6: “air bersih dan sanitasi untuk semua". Bergerak bersama untuk memastikan perilaku hidup bersih dan sehat ini sangatlah penting karena PBB menyatakan bahwa 50% malnutrisi anak dikaitkan dengan air tak layak minum serta sanitasi dan higiene rendah. [10]


Reference:

  1. Achmad, Bromo Kusumo, et al. “Relationships between Septic Tank Construction and Number of Escherichia Coli in Dug Well Water in Rahandouna Village, Kendari, Southeast Sulawesi, Indonesia.” Journal of Epidemiology and Public Health, vol. 5, no. 2, 2020, pp. 150–157., doi.org/10.26911/jepublichealth.2020.05.02.03. Diakses 17 Nov. 2021.

  2. “Drinking-Water.” World Health Organization, World Health Organization, https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/drinking-water.

  3. “Guidelines for Drinking-Water Quality.” World Health Organization, 24 Apr. 2017, www.who.int/teams/environment-climate-change-and-health/water-sanitation-and-health/water-safety-and-quality/drinking-water-quality-guidelines. Diakses 17 Nov. 2021.

  4. “Higiene, Sanitasi.” Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).” https://kbbi.web.id/. Diakses 17 Nov. 2021.

  5. Mlipano, Chove Lucy, et al. “Effect of Depth and Distance of the Borehole from the Septic Tank on the Physico-Chemical Quality of Water.” Journal of Food Studies, vol. 7, no. 1, 2017, p. 41., doi.org/10.5296/jfs.v7i1.12187. Diakses 17 Nov. 2021.

  6. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2014 tentang Sanitasi Total Berbasis Masyarakat. hukor.kemkes.go.id/uploads/produk_hukum/PMK%20No.%203%20ttg%20Sanitasi%20Total%20Berbasis%20Masyarakat.pdf. Diakses 17 Nov. 2021.

  7. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 492 Tahun 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. pamsimas.org/peraturan-menteri-kesehatan-republik-indonesia-no-492/. Diakses 17 Nov. 2021.

  8. Robinson , Julie Garden. “Water: The Foundation of a Healthy Body.” Journal of Nutrition Education and Behavior, 51 , no. 8, 3 Apr. 2019, pp. 1028–1029., doi.org/10.1016/j.jneb.2019.04.003. Accessed 17 Nov. 2021.

  9. Taylor, Kory. “Adult Dehydration.” StatPearls [Internet]., StatPearls Publishing, Treasure Island (FL), 10 Oct. 2021, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK555956/.

  10. UN-Water. “Water, Sanitation and Hygiene: UN-Water.” UN, www.unwater.org/water-facts/water-sanitation-and-hygiene/. Diakses 17 Nov. 2021.

  11. “Water, Sanitation and Hygiene.” UNICEF Indonesia, 12 Oct. 2021, https://www.unicef.org/indonesia/water-sanitation-and-hygiene. Diakses 17 Nov. 2021.

Created by:

Maria Varani Setyadi - Ambassador of Public Health for District 3 AMSA-Indonesia 2020/2021

Reviewed by:

Fitriana Herarti, M.Psi, Psikolog, Praktisi Parenting dan Perkembangan Anak

Designed by:

Rekianarsyi Arrasyidipa Narayaprawira Wiranto Putra

91 views0 comments

Recent Posts

See All